KUIL
24th May 2015 - 24th June 2015

curatorial notes/ participant/ from the gallery/ photos

Kita telah terbiasa memahami sebuah kuil dengan jangkauan makna yang agakspesifik. Sebab, di dalam sistem pengetahuan lokal kita, tidak setiap rumah ibadah dapat dan boleh disebut sebagai kuil. Di satu sisi, kuil memang memiliki medan makna tersendiri yang merujuk kepadatempat ibadah tertenju saja; namun, di sisi lain, makna kuil biasanya ditempelkan dengankonotasi yang unik. Signifikasi atas kuil tidak hanya berhenti pada tataran harafiah, melainkan berlanjut ke dalam beberapa makna asosiatif. Jika kita mendengar istilah ini, serentak yang terbayang di dalam benak adalah sebuah bangunan tua atau kuna yang digunakan untuk pemujaan atas dewa tertentu atau, tepatnya, sosok deity (makhluk adikodrati apapun yang dipuja, supranatural being). Bukan hanya itu, sebab karakteristik tua atau kuna saja belumlah cukup untuk menampung luapan imajinasi kita. Tipe bangunan ini biasanya dibayangkan pula dengan suasana yang singup, nyenyet, mungkin lembab, remang (dengan berkas-berkas cahaya yang menerobos masuk lewat kisi-kisi jendela dan celah-celah di dinding kusam), dipenuhi asap dupa, altar-altar pemujaan, dan seterusnya. Singkat kata, ia terkesan keramat. Tentu saja kita masih bisa menambahkan elemen-elemen imajinatif lain untuk mengkonstruk pamahaman kultural yang lebih leluasa atas sebuah kuil sebagaimana dua seniman ini, Pande Ketut Taman dan Putu Sutawijaya. Malalui pameran kali ini, keduanya coba membubuhkan makna-makna asosiatif atas kuil melalui strategi metonimik, yakni dengan cara meminjam atribut atau bagian (part) tertentu (Ganesha, trisula, daun bodhi, dst) untuk mewakili keseluruhan (whole) bangunan imajinasi kita tentang kuil kehidupan.